Sistem pengolahan dan daur ulang air limbah industri menggunakan teknologi membran MBR, UF, dan RO untuk mencapai standar buang atau Zero Liquid Discharge (ZLD).
Industri Indonesia menghadapi tekanan ganda dalam pengelolaan air: regulasi baku mutu air limbah (Permen LHK 5/2014, 68/2016, 5/2021) yang semakin ketat, dan biaya air baku yang terus meningkat. Sistem pengolahan dan daur ulang air limbah modern menjawab keduanya sekaligus — mengubah biaya kepatuhan menjadi penghematan operasional.
PT Tirta Sumber Makmur merancang dan membangun sistem pengolahan air limbah industri berbasis teknologi membran terkini: MBR (Membrane Bioreactor) untuk limbah organik tinggi, UF + RO untuk daur ulang, hingga ZLD (Zero Liquid Discharge) dengan evaporator dan crystallizer untuk industri yang harus zero discharge. Kami telah membangun sistem untuk APP (pulp & paper), PT Sasa Inti (food), dan industri tekstil di Karawang dan Bandung.
Tidak semua industri butuh ZLD penuh — solusi yang tepat tergantung karakteristik limbah, regulasi yang berlaku, dan economic value air daur ulang. TSM menyusun pendekatan bertingkat:
ZLD adalah investasi besar (typical 5–15 milyar untuk kapasitas industri menengah) dengan operating cost tinggi. Karena itu TSM menganalisis bisnis kasus klien sebelum merekomendasikan tier yang tepat — terkadang Tier 2 sudah cukup memenuhi target compliance dan ROI.
| Teknologi | MBR + UF + RO |
| Recovery Air | 80 – 95% |
| COD Removal | > 98% |
| TSS Output | < 5 ppm |
| BOD Output | < 10 ppm |
| Opsi | Zero Liquid Discharge (ZLD) |
ZLD Pabrik Tekstil di Karawang — TSM membangun sistem MBR + RO + Evaporator 100 m³/hari untuk pabrik dyeing yang harus zero discharge sesuai aturan kawasan industri. Recovery air 85%, COD effluent zero, kristal garam dijual ke industri kimia. Investasi kembali dalam 4 tahun dari penghematan air baku dan kepatuhan regulasi.
MBR + Reuse di PT Sosro — Sistem MBR 200 m³/hari mengolah limbah pabrik minuman menjadi air kualitas tinggi. RO downstream menghasilkan air daur ulang untuk cooling tower dan flushing, mengurangi konsumsi air baku PDAM hingga 35%. Effluent sisa jauh di bawah baku mutu untuk dibuang.
WWTP konvensional pakai sedimentation tank dan sand filter — TSS effluent biasanya 20–30 mg/L. MBR menggunakan UF membrane langsung di bioreactor — TSS effluent <1 mg/L, BOD <5 mg/L, ammonia <1 mg/L. Footprint MBR 30–50% lebih kecil dan kualitas effluent jauh lebih baik untuk reuse.
Tergantung karakteristik limbah dan kapasitas. Industri menengah (50–200 m³/hari) typical Rp 5–15 milyar untuk full ZLD. Operating cost 0,8–2,5 USD/m³. ROI tercapai jika harga air baku lokal tinggi atau ada penalti environmental yang signifikan.
Sebagian besar industri tidak wajib ZLD — hanya wajib memenuhi baku mutu effluent (Permen LHK). Wajib ZLD biasanya untuk industri di kawasan tertentu (Cikarang, Karawang industrial zone) atau yang dekat sumber air bersih masyarakat. TSM bantu evaluasi regulasi yang berlaku untuk Anda.
Untuk MBR menengah: 6–10 bulan termasuk engineering, civil, manufacturing, instalasi, dan commissioning. Untuk ZLD lengkap: 12–18 bulan. TSM memberikan timeline detail di proposal dengan milestone deliverables.
Ya. Kami menawarkan kontrak O&M (Operation & Maintenance) di mana tim teknis TSM mengoperasikan sistem secara penuh atau menyediakan supervisi rutin. Pilihan populer untuk klien yang fokus core business dan tidak ingin handle operasi WWTP sendiri.
Pengolahan air limbah modern bukan lagi sekadar biaya kepatuhan — ia adalah peluang untuk mengubah water footprint industri menjadi keunggulan kompetitif. Konsultasikan kondisi limbah dan target compliance Anda dengan tim TSM untuk mendapatkan analisis bisnis kasus dan rekomendasi solusi yang tepat.
Tim engineer kami siap membantu Anda menentukan spesifikasi yang tepat sesuai kebutuhan.