| Klien | PT Energi Pelabuhan Indonesia (PT EPI) – bagian dari Pelindo Group |
|---|---|
| Lokasi | Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara |
| Tipe Sistem | Optimalisasi sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) skala besar existing |
| Kapasitas Produk | 1.100 m³/hari (~46 m³/jam continuous) |
| Sumber Air | Air laut Tanjung Priok (TDS ~33.000 ppm) |
| Kualitas Output | TDS < 500 ppm, layak minum (Permenkes 492/2010) |
| Konfigurasi | DAF + UF + SWRO 2-pass + ERD + Remineralisasi |
| Tahun Pengerjaan | Agustus 2023 (optimalisasi) |
| Status | Operasi normal pasca-optimalisasi |
Latar Belakang Proyek
Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan tersibuk di Indonesia, melayani lebih dari 60% peti kemas nasional dengan ribuan kapal yang berlabuh setiap bulan. Operasional pelabuhan modern membutuhkan pasokan air bersih dalam volume besar untuk berbagai keperluan: pengisian air kapal yang berlabuh, pembersihan area pelabuhan, sistem firefighting, kebutuhan kantor dan fasilitas operasional, hingga proses-proses tertentu di terminal cair.
Bergantung pada pasokan air dari PDAM untuk kebutuhan sebesar ini menghadirkan beberapa tantangan: kapasitas yang terbatas pada jam-jam puncak, fluktuasi tekanan, biaya yang meningkat seiring waktu, dan ketergantungan pada pihak luar untuk operasi yang sangat strategis. PT EPI sebagai entitas yang mengelola layanan energi dan utilitas di lingkungan Pelindo memutuskan membangun fasilitas desalinasi air laut sendiri — memanfaatkan sumber air tak terbatas yang tepat di samping pelabuhan.
TSM dipercaya untuk pekerjaan Optimalisasi SWRO unit C kapasitas 1.100 m³/hari di Pelindo Tanjung Priok, dengan target peningkatan reliability, efisiensi energi, dan performance sistem yang sudah beroperasi. Pekerjaan diselesaikan pada Agustus 2023 setelah serangkaian engineering review, persiapan suku cadang dan komponen pengganti, dan periode pelaksanaan yang dirancang untuk meminimalkan disrupsi operasional pelabuhan.
Tantangan Engineering
SWRO 1.100 m³/hari adalah salah satu instalasi terbesar yang TSM tangani — lebih dari 5x kapasitas SWRO komersial pada umumnya. Beberapa tantangan engineering kritis yang harus diselesaikan:
1. Kualitas Air Laut Tanjung Priok
Air laut di area pelabuhan tidak ideal — kandungan padatan tersuspensi tinggi, kontaminan organik dari aktivitas pelabuhan, dan fluktuasi salinitas musiman akibat masukan air sungai. Pre-treatment harus jauh lebih agresif dibanding SWRO untuk lokasi pulau terpencil yang air lautnya bersih.
2. Footprint Terbatas
Lokasi instalasi adalah area pelabuhan yang sangat berharga — setiap meter persegi diperhitungkan. TSM harus mendesain sistem dengan footprint efisien, menggunakan konfigurasi multi-storey dengan pre-treatment di lantai bawah dan RO + post-treatment di lantai atas.
3. Operasi 24/7 Tanpa Toleransi Downtime
Pelabuhan beroperasi terus-menerus dan tidak dapat menunggu maintenance terjadwal yang panjang. Sistem harus dirancang dengan redundancy: dua train RO yang dapat beroperasi independen, automatic switching, dan kapasitas storage tank cukup untuk buffer 8-12 jam jika satu train sedang shutdown.
4. Efisiensi Energi pada Skala Besar
Untuk kapasitas 1.100 m³/hari, perbedaan 1 kWh/m³ saja berarti penghematan biaya listrik sekitar Rp 800 juta per tahun. ERD (Energy Recovery Device) menjadi mandatory, ditambah seleksi membran dan pompa yang dioptimasi untuk operating point spesifik.
Solusi yang Diimplementasikan
Setelah analisis mendalam dan pilot test 4 minggu di lokasi, TSM merekomendasikan konfigurasi berikut:
Pre-treatment Bertingkat
Air laut diintake dari kedalaman 4-6 meter melalui pipa intake dengan screen kasar di muara. Kemudian masuk ke:
- Coagulation-flocculation dengan dosing FeCl₃ untuk mengikat koloid dan organik
- DAF (Dissolved Air Flotation) untuk pemisahan flok dan ganggang
- Multi-media filter dual-bed dengan pasir + antrasit
- Ultrafiltrasi (UF) hollow fiber sebagai polishing — menjamin SDI <3 di feed RO
- Cartridge filter 5 µm sebagai protection terakhir sebelum RO
SWRO 2-Pass dengan ERD
Konfigurasi RO dirancang sebagai dua train paralel, masing-masing 550 m³/hari, untuk redundancy dan flexibility:
- Pass 1 — High-pressure pump axial piston Danfoss APP 78 + ERD isobaric chamber. Membran SWRO Dow Filmtec SW30HRLE-440i.
- Pass 2 — Booster pump untuk treatment lanjut, mengejar TDS produk <500 ppm konsisten.
- Recovery — 42% pada pass 1, 90% pada pass 2 — total recovery sistem 38%.
Post-treatment & Storage
Permeate hasil RO masih korosif (low TDS dan low Ca/Mg), sehingga butuh remineralisasi sebelum distribusi:
- Remineralisasi calcite + dolomite untuk menambahkan Ca dan Mg hingga TDS 80-150 ppm
- pH adjustment dengan dosing CO₂ scrubber + NaOH
- Klorinasi sebagai disinfeksi residual untuk distribusi
- Storage tank 500 m³ untuk buffer kebutuhan operasional 12 jam
Hasil & Dampak Operasional
Setelah optimalisasi selesai pada Agustus 2023 dan periode validasi performance, sistem mencapai target operasional yang ditetapkan:
- Kapasitas produk — Konsisten 1.100 m³/hari pada beban penuh, dengan turn-down ratio 30-100% sesuai demand
- Kualitas produk — TDS 380-450 ppm (target <500), pH 7,2-7,8, klorin sisa 0,3-0,5 mg/L
- Konsumsi energi — 3,8 kWh/m³ rata-rata, dengan recovery energi dari ERD >55%
- Availability — >98% sejak commissioning, downtime hanya untuk preventive maintenance terjadwal
- Biaya operasional — sekitar Rp 18.000 per m³ termasuk listrik, kimia, dan service. Jauh lebih ekonomis dibanding pasokan PDAM jangka panjang
Selain pencapaian teknis, proyek ini menjadi showcase kemampuan EPC water treatment skala besar di Indonesia — bahwa untuk infrastruktur strategis sekelas pelabuhan, mitra lokal dapat memberikan engineering quality yang setara EPC internasional dengan keuntungan akses, support, dan biaya yang lebih kompetitif.
Lessons Learned untuk Proyek Sejenis
Beberapa insight engineering dari proyek ini yang berlaku untuk SWRO skala besar di kawasan industri/pelabuhan:
- Pre-treatment tidak boleh under-designed — Air laut di kawasan industri jauh lebih sulit dari air laut pulau. Investasi tambahan di DAF + UF terbayar dalam 6-12 bulan dari penghematan penggantian membran.
- Redundancy melalui multi-train — Dua train 50% lebih baik dari satu train 100% untuk reliability. Maintenance dapat dilakukan tanpa shutdown total.
- ERD adalah mandatory pada skala >200 m³/hari — ROI energi recovery 2-3 tahun. Tidak ada alasan teknis untuk tidak memasangnya.
- SCADA + Remote Monitoring — Untuk fasilitas yang dioperasikan tim shift, SCADA dengan trend, alarm management, dan remote access membantu engineer senior mengevaluasi kinerja dari mana saja.
- Service contract jangka panjang — Investasi sebesar ini perlu dijaga dengan service contract yang memastikan pre-treatment optimal, kimia tepat, dan early intervention saat ada anomali.
Galeri Foto Proyek
Foto sistem dan instalasi di lokasi:



Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa cakupan pekerjaan optimalisasi SWRO 1.100 m³/hari di Pelindo?
Pekerjaan optimalisasi mencakup beberapa lingkup: assessment kondisi sistem dan diagnosis area improvement, perencanaan upgrade komponen kritis (membran, instrumentation, pre-treatment), penyediaan suku cadang dan part pengganti, eksekusi penggantian dan upgrade dengan minimum disruption, performance test dan validasi setelah pekerjaan, plus dokumentasi as-built. Tujuan utama: meningkatkan reliability, efisiensi energi, dan output quality dari sistem existing tanpa membangun ulang dari nol.
Apa beda SWRO 1.100 m³/hari ini dengan SWRO untuk pulau terpencil?
Skala dan kompleksitas sangat berbeda. SWRO pulau (10-50 m³/hari) biasanya kontainer plug-and-play, single train, recovery 30-35%, footprint kecil. SWRO skala pelabuhan butuh multi-train dengan redundancy, recovery yang dioptimasi untuk biaya energi (35-42%), pre-treatment lebih kompleks karena air laut industri lebih kotor, dan SCADA penuh untuk operasi shift.
Berapa biaya operasional sistem ini per tahun?
Pada beban penuh 1.100 m³/hari × 365 hari = 401.500 m³/tahun. Dengan opex Rp 18.000/m³, total opex sekitar Rp 7,2 milyar/tahun. Komponennya: listrik 60%, kimia 15%, penggantian membran (amortized 5-7 tahun) 12%, service contract 8%, lainnya 5%. Bandingkan dengan pasokan PDAM untuk volume sebesar ini yang biayanya bisa 2-3x lipat dengan kualitas yang lebih fluktuatif.
Apakah TSM bisa membangun SWRO yang lebih besar lagi?
Ya. Sistem 1.100 m³/hari ini menggunakan 2 train @ 550 m³/hari. Untuk kapasitas lebih besar, kami dapat memparalelkan lebih banyak train (4-6 train) hingga total 5.000+ m³/hari. Untuk proyek di atas 5.000 m³/hari, biasanya konfigurasi shifting ke distillation hybrid atau MED-RO yang lebih ekonomis pada skala mega.
Apakah klien Pelindo lain bisa adopt sistem serupa?
Sangat memungkinkan. Pelabuhan-pelabuhan besar lain di Indonesia (Tanjung Perak, Belawan, Makassar, Bitung) memiliki kebutuhan air operasional yang serupa. Konfigurasi ini dapat di-replicate dengan adjustment skala dan customization untuk kondisi air laut lokal. TSM siap mendiskusikan untuk fasilitas Pelindo Group yang lain.
Tertarik Solusi Serupa untuk Operasi Anda?
Tim engineering TSM siap mendiskusikan kebutuhan water treatment Anda dengan referensi proyek serupa yang sudah terbukti. Konsultasi awal gratis tanpa komitmen.
📋 Konsultasi Proyek Anda →