Industri maritim adalah salah satu lingkungan operasi paling berat untuk sistem water treatment. Air laut yang sangat korosif, getaran konstan dari mesin kapal, ruang yang sangat terbatas di kamar mesin, fluktuasi tegangan listrik kapal, dan persyaratan keandalan yang ekstrem (kru tidak bisa "memesan air" di tengah laut) — semua ini menjadikan SWRO marine sebagai kategori produk yang sangat berbeda dari SWRO darat.
PT Tirta Sumber Makmur memiliki pengalaman dua dekade memasok sistem SWRO marine untuk berbagai jenis kapal di Indonesia: kapal niaga, kapal pesiar dan ferry, kapal pendukung offshore (OSV, AHTS), rig pengeboran, hingga kapal perang Republik Indonesia (KRI). Setiap proyek menuntut sertifikasi BKI dan dalam banyak kasus juga klasifikasi internasional seperti ABS, DNV, atau Lloyd's Register.
Aplikasi SWRO di Industri Maritim
Kapal Niaga & Tanker
Kapal cargo, container, dan tanker membutuhkan SWRO 2–8 m³/hari untuk drinking water, sanitasi ABK, dan boiler make-up.
Kapal Perang KRI
Kapal perang TNI AL membutuhkan SWRO yang ringkas, andal di kondisi misi, dan tahan beban operasi tinggi. Sertifikasi militer.
Kapal Penumpang & Ferry
Kapal cruise, ferry penumpang, dan kapal Pelni membutuhkan kapasitas tinggi (20–50 m³/hari) untuk ratusan penumpang.
Kapal Offshore (OSV/AHTS)
Kapal pendukung pengeboran lepas pantai membutuhkan SWRO andal untuk operasi panjang di laut tanpa akses port.
Rig Pengeboran
Rig offshore dengan 100–200 personel memerlukan kapasitas besar 30–80 m³/hari, sistem redundan untuk safety.
FPSO & Floating Asset
Floating Production Storage Offloading membutuhkan SWRO marine dengan availability >99% untuk operasi multi-tahun di laut.
Standar & Sertifikasi Marine
Berbeda dengan SWRO darat, SWRO marine harus memenuhi persyaratan klasifikasi maritim. TSM bekerja dengan badan klasifikasi berikut:
- BKI (Biro Klasifikasi Indonesia): Wajib untuk kapal berbendera Indonesia. TSM memiliki track record sertifikasi BKI pada banyak proyek kapal niaga dan kapal TNI AL.
- ABS (American Bureau of Shipping): Untuk kapal yang beroperasi internasional atau owner internasional.
- DNV (Det Norske Veritas): Klasifikasi Eropa, umum untuk kapal offshore.
- Lloyd's Register: Klasifikasi tradisional Inggris, banyak digunakan untuk kapal niaga.
- NK (Nippon Kaiji Kyokai): Klasifikasi Jepang, untuk kapal-kapal yang dibangun di galangan Jepang atau owner Jepang.
Sertifikasi mensyaratkan kepatuhan pada pemilihan material (duplex/super duplex stainless steel untuk kontak air laut), desain pressure vessel sesuai code (ASME atau setara), dokumentasi factory acceptance test (FAT), dan witness inspection oleh surveyor klasifikasi.
Ballast Water Management System (BWMS)
Selain watermaker SWRO, kapal yang berlayar internasional juga wajib memasang Ballast Water Management System (BWMS) sesuai IMO Ballast Water Management Convention 2004 yang berlaku efektif sejak 2017. Sistem BWMS mengolah air ballast dengan kombinasi hydrocyclone, ultrasonic prefilter, dan UV disinfection sehingga organisme laut tidak ikut terbawa ke ekosistem pelabuhan tujuan.
TSM mengintegrasikan BWMS tipe Integrated Mounting (skid pre-assembled) dan Distributed Mounting BSKY100 (komponen terpisah untuk retrofit kapal lama dengan ruang terbatas). Kapasitas standar 100 m³/jam, konsumsi listrik 33,5 kW saat treatment aktif, sepenuhnya chemical-free. Sistem dapat di-class oleh BKI dan compatible dengan IACS member societies. Lihat spesifikasi lengkap BWMS →
Studi Kasus Proyek Maritim TSM
Studi Kasus: KRI Wintermar
TSM mengerjakan instalasi SWRO marine untuk KRI dan kapal-kapal milik PT Wintermar Offshore Marine. Detail lengkap tersedia di studi kasus RO Air Laut KRI Wintermar.
Studi Kasus: Armada KRI Sultan Iskandar Muda
Untuk armada kapal perang KRI Sultan Iskandar Muda, TSM menyediakan SWRO dengan sertifikasi BKI dan dokumentasi militer lengkap. Lihat studi kasus armada KRI Sultan Iskandar Muda untuk detail teknis dan dokumentasi.
Studi Kasus: Pelindo Multi Terminal
Untuk fasilitas pelabuhan Pelindo, TSM menyediakan SWRO darat sebagai backup kebutuhan air bersih pelabuhan dan supply ke kapal yang berlabuh. Detail di studi kasus Pelindo.
Spesifikasi Teknis SWRO Marine
| Parameter | Spesifikasi Marine |
|---|---|
| Kapasitas tipikal | 1 – 80 m³/hari (kapal kecil hingga rig) |
| Material kontak air laut | Duplex SS 2205 / Super Duplex SS 2507 |
| Frame & skid | Stainless steel 316L marine grade dengan epoxy coating |
| Tekanan operasi | 55 – 70 bar |
| Pompa HP | Cat Pumps / Danfoss APP / Grundfos BMS marine |
| Energy Recovery | Pressure Exchanger (PX) atau Turbocharger |
| Konsumsi energi | 3,5 – 4,5 kWh/m³ (dengan ERD) |
| Resistance tegangan | Toleransi ±10% dari nominal listrik kapal (tipikal 380V/440V/690V) |
| Vibration test | IEC 60068-2-6, sesuai persyaratan klasifikasi |
| IP Rating | IP54 minimum, IP65 untuk komponen exposed |
| Sertifikasi | BKI / ABS / DNV / Lloyd's Register / NK (sesuai permintaan) |
Layanan TSM untuk Industri Maritim
- New Build SWRO: Desain dan supply SWRO untuk kapal yang sedang dibangun di galangan
- Retrofit: Penggantian SWRO eksisting yang sudah aging atau bermasalah
- Sertifikasi BKI: Penyiapan dokumentasi dan koordinasi dengan surveyor BKI
- FAT & Commissioning: Factory Acceptance Test di workshop TSM Bekasi, lalu commissioning di kapal
- Crew Training: Training operator dan teknisi kapal dalam Bahasa Indonesia
- Service Visit: Kunjungan service ke pelabuhan utama Indonesia
- Spare Parts Supply: Membran, cartridge, chemical, dan komponen kritis dengan stock di Bekasi
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu SWRO marine dan apa bedanya dengan SWRO darat?
SWRO marine dirancang khusus untuk operasi di kapal: tahan getaran konstan, korosi air laut yang sangat agresif, ruang kamar mesin yang sempit, dan listrik kapal yang fluktuatif. Material wajib duplex atau super duplex stainless steel, dengan sertifikasi BKI atau klasifikasi internasional seperti ABS, DNV, atau Lloyd's Register. SWRO darat dengan material biasa tidak akan bertahan lama di lingkungan kapal.
Apakah TSM bersertifikat BKI?
Ya, sistem SWRO TSM telah lolos sertifikasi BKI (Biro Klasifikasi Indonesia) untuk berbagai proyek kapal niaga dan kapal perang TNI AL. Kami juga bisa menyiapkan dokumentasi untuk klasifikasi ABS, DNV, dan Lloyd's Register sesuai kebutuhan owner kapal. Tim engineering kami sudah terbiasa dengan dokumen seperti material certificates, NDT reports, dan welding qualification.
Berapa kapasitas SWRO untuk kapal niaga tipikal?
Kebutuhan tergantung jumlah personel dan jenis operasi. Sebagai panduan: kapal niaga dengan 25–40 ABK biasanya butuh kapasitas 2–5 m³/hari. Kapal cruise atau ferry penumpang besar 20–50 m³/hari. Rig offshore dengan 100–200 personel mencapai 30–80 m³/hari. TSM mendesain custom sesuai jumlah personel, durasi misi, dan profil operasi kapal.
Berapa biaya SWRO marine?
SWRO marine kapasitas kecil (2–5 m³/hari) berkisar Rp 350–650 juta termasuk frame skid dan instrumentasi marine grade. Kapasitas menengah (10–20 m³/hari) Rp 800 juta – Rp 1,8 miliar. Sertifikasi BKI menambah biaya 8–12% dibanding non-sertifikasi karena dokumentasi, witness test, dan upgrade material tertentu.
Apakah TSM service untuk SWRO yang sudah dipasang?
Ya. TSM menyediakan service kunjungan kapal, training ulang kru, dan supply spare parts untuk SWRO marine yang sudah dipasang — termasuk SWRO yang aslinya dibuat oleh manufaktur lain. Tim service kami sudah mengunjungi kapal di pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, Makassar, Sorong, dan beberapa floating asset offshore.
Berapa lama lead time untuk SWRO marine?
Untuk SWRO marine standar tanpa modifikasi besar, lead time tipikal 10–14 minggu dari PO hingga FAT siap. Untuk sistem dengan sertifikasi BKI lengkap dan witness test, tambahkan 2–4 minggu untuk koordinasi surveyor. Untuk kapal yang sedang dibangun di galangan, kami bisa menyesuaikan jadwal dengan milestone galangan.
Konsultasi SWRO Marine untuk Kapal Anda
Apakah Anda owner kapal, galangan kapal, atau ship designer — TSM siap memberikan technical proposal SWRO marine yang sesuai dengan klasifikasi target dan budget.
⚓ Hubungi Tim Marine TSM →